Home » Pegadaian Syariah » Yuk Kenalan dengan Pegadaian Syariah
Pegadaian Syariah

Yuk Kenalan dengan Pegadaian Syariah

Dalam Islam, Gadai disebut dengan Rahn. Gadai atau Rahn adalah akad utang piutang dengan menjadikan BARANG yang mempunyai nilai ekonomis menurut pandangan syara’ sebagai JAMINAN.

Pegadaian Syariah

Semasa hidupnya Rasulullah SAW pernah melakukan praktek Rahn ini yaitu: “Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. pernah membeli makanan dengan berutang dari seorang Yahudi, dan Nabi menggadaikan sebuah baju besi kepadanya.” (H.R. MBukhari dan Muslim).

Ada beberapa istilah dalam pegadaian ini yang PERLU Kita ketahui. Diantaranya adalah:

1. Perusahaan Pegadaian disebut sebagai Murtahin atau Penerima Barang
2. Pihak yang ingin menggadaikan/menyerahkan barang/ nasabah disebut sebagai Rahin
3. Barang yang digadaikan disebut juga dengan Marhun

Pegadaian Syariah HALAL atau DIBOLEHKAN  sesuai dengan FATWA DEWAN SYARIAH NASIONAL Nomor: 25/DSN-MUI/III/2002 dengan ketentuan berikut ini:

Perusahaan Pegadaian (murtahin) memiliki hak untuk menahan barang (marhun) jaminan hingga hutangnya dilunasi dan barang (marhun) yang digadaikan dikembalikan kepada nasabah.

Barang yang digadaikan TETAP menjadi milik nasabah (Rahin) begitu juga dengan manfaatnya.

Pada prinsipnya barang jaminan (marhun) tidak boleh dimanfaatkan oleh Perusahaan (murtahin) kecuali seizin nasabah (rahin) dan tidak mengurangi nilai barang dan pemanfaatannya itu sekedar pengganti biaya pemeliharaan dan perawatannya.

Penyimpanan barang jaminan bisa dilakukan oleh nasabah sendiri ataupun bisa dilakukan oleh perusahaan sedangkan biaya dan pemeliharaan penyimpanan tetap menjadi kewajiban Rahin.

Besar biaya pemeliharaan dan penyimpanan barang jaminan tidak boleh ditentukan berdasarkan jumlah pinjaman.

Apakah barang jaminan boleh dijual oleh Perusahaan Pegadaian syariah? Barang jaminan BOLEH DIJUAL jika:

a. Apabila Nasabah tidak dapat melunasi utangnya, maka barang jaminan dijual paksa/dieksekusi melalui lelang sesuai syariah.

b. Hasil penjualan barang jaminan digunakan untuk melunasi utang, biaya pemeliharaan dan penyimpanan yang belum dibayar serta biaya penjualan.

c. Kelebihan hasil penjualan menjadi milik Nasabah dan kekurangannya menjadi kewajiban Nasabah

Jika ternyata tidak tercapai kesepakatan baik dalam hal menunaikan kewajiban atau jika terjadi perselisihan di antara kedua belah pihak, maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrase Syari’ah. BAS merupakan lembaga yang memiliki peran dalam menyelesaikan sengketa yang berprinsip syariah secara damai dengan tidak melibatkan peradilan umum.